Selamat Datang di web FKWA ( Forum Komunikasi Winongo Asri )

Selasa, 16 April 2013

TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA


TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA

Kota Jogja setidaknya dilintasi oleh tiga buah sungai, yaitu Sungai Gajah Wong, Sungai Code, dan Sungai Winongo. Ketiga sungai ini memiliki tebing yang relatif tinggi. Bantaran sungai tersebut untuk saat ini juga menjadi lokasi hunian yang cukup padat. Bantaran-bantaran sungai di ketiga sungai itu akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang relatif intens dari Pemkot Jogja maupun warga Jogja sendiri, terutama yang bermukim di bantaran-bantaran sungai tersebut.

Kini muncul semacam kesadaran untuk menjaga lingkungan bantaran dan sungainya sekaligus. Mungkin perhatian paling awal akan pentingnya memelihara dan memanfaatkan bantaran sungai muncul beriringan dengan dibangunnya Kebun Binatang Gembira Loka (Kebon Rojo) pada tahun 1953. Seiring dengan semakin padatnya pemukiman di Jogja terutama di kawasan bantaran sungai, perhatian terhadap bantaran sungai semakin intens. Kecuali Gembira Loka, mungkin kawasan Terban dan Ledok Gondolayu serta Jogoyudan juga merupakan kawasan yang relatif intens perhatiannya terhadap bantaran sungai.
Hal demikian juga terjadi pada bantaran sungai di kawasan Serangan, tepatnya di sisi bawah (selatan) Jembatan Serangan. Dulunya kawasan ini relatif kumuh lebih-lebih pada sisi atas-barat dari kawasan ini terdapat pasar tradisional Serangan yang pada masa lalu berkecenderungan melimpahkan sebagian limbahnya ke Sungai Winongo yang mengalir di sisi timurnya.
Kini pada kawasan bawah Jembatan Serangan ini telah dibangun taman yang diberi nama Taman Wisata Air Wiranata Saestu. Peresmian taman ini dilakukan pada tanggal 27 Maret 2011 yang lalu oleh Walikota Jogja, H. Herry Zudianto. Pembangunan Taman Wisata Air Wiranata Saestu di bantaran Sungai Winongo ini sebagai bentuk atau bagian dari revitalisasi sungai dengan basis masyarakat. Taman wisata air ini dilengkapi dengan panggung hiburan, warung makan, arena bermain anak-anak, lorong atau jalan yang dapat digunakan untuk berjalan-jalan santai atau sekadar duduk-duduk sambil menikmati pemandangan.
Diharapkan bahwa revitalisasi sungai berbasis masyarakat ini sungguh-sungguh mampu menyadarkan masyarakat untuk menjaga sungai dan lingkungannya. Selain itu revitalisasi sungai juga mampu memberikan dukungan lingkungan yang semakin sehat dan bersih sekaligus mendatangkan keuntungan (ekonomi) bagi warga setempat. Dengan demikian akan muncul kesadaran pula bahwa sungai bukanglah tong sampah atau pelimbahan yang panjang yang bisa diperlakukan semena-mena.
Kehadiran Taman Wisata Air Wiranata Saestu ini merupakan inisiatif warga dari Kecamatan Ngampilan dan Wirobrajan yang tergabung dalam wadah yang dinamakan Forum Komunikasi Winongo Asri. Taman Wisata Air Wiranata Saestu itu sendiri memang berada di dua wilayah, Kecamatan Wirobrajan dan Kecamatan Ngampilan.
Mungkin hal yang paling berat dari munculnya gagasan taman air di bantaran sungai semacam itu adalah masalah pemeliharaannya. Pembangunan mungkin relatif mudah. Akan tetapi memelihara dengan keberlanjutan dalam waktu yang seterusnya membutuhkan kemauan, ketekunan, kecintaan, kerelaan, kepedulian, bahkan juga tenaga, waktu, dan dana yang terus-menerus. Tanpa itu semuanya akan mandek, berhenti. Pada sisi-sisi inilah dibutuhkan kesadaran semacam itu. Pengelolaan sampah/limbah mandiri pun tampaknya wajib dilakukan mengingat bantaran sungai demikian padat hunian. Sungai di kota juga melintasi aneka tempat publik, aneka tempat produksi barang dan jasa yang semuanya menghasilkan sampah/limbah. Dari semua tempat-tempat berkegiatan manusia itu tidak semuanya memiliki kesadaran untuk mengelola sampah dan limbahnya dengan benar. Hal demikian tampaknya perlu terus diperhatikan dan disadarkan.
Barangkali pada kesempatan lain akan muncul lokasi-lokasi baru sebagai bentuk revitalisasi sungai sehingga sungai-sungai di Jogja tidak lagi menjadi sungai yang menjijikkan, namun sungai yang sungguh bersih dan sehat. Kemungkinan semacam itu hanya bisa diwujudkan dengan kesadaran dan tekad bersama.
a.sartono


Tidak ada komentar:

Posting Komentar