Selamat Datang di web FKWA ( Forum Komunikasi Winongo Asri )

Senin, 10 Februari 2014

FESTIVAL WINONGO SARASEHAN “Membangun Budaya dan Ekosistem Sungai Winongo”


(FKWA) Upaya pelestarian lingkungan ini menjadi sangat penting di tengah persoalan lingkungan, yang semakin kritis. Prilaku masyarakat dan pembangunan yang tidak mengedepankan aspek lingkungan menjadi penyumbang terbesar rusaknya lingkungan, khususnya di kawasan bantaran sungai. Untuk itu gerakan peduli lingkungan terus di lakukan untuk mendorong kesadaran masyarakat akan lingkungannya. FKWA melalui kegiatan Festival Winongo berupaya membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai kegiatan dalam festival winongo. kegiatan ini tidak akan berhasil tanpa keterlibatan semua pihak , baik dari Akademisi, LSM dan juga pemerintah. Untuk itu peran serta masyarakat bantaran sungai winongo dan semua pihak yang terkait menjadi penting perannya dalam mensukseskan kegiatan tersebut.

Sabtu, 23 November 2013

Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!

Sisipan cerita!
Warga mengubah pencitraan sungai Winongo!
Oleh: Farsijana Adeney-Risakotta

Tahun 2009, saya pertama kali datang di sini, di bangunan yang disebut rumah bambu.  Banyak perempuan berkumpul. Masing-masing terlihat sangat sibuk. Masih segar dalam ingatan saya. Ruang itu penuh warna warni dari berbagai karya perempuan. Ada pakaian siap pakai, tas manik-manik, tas dengan bahan perca, taplak meja dari bahan bloco dengan motif bordiran yang menggambarkan alam sekitar kali. Masih banyak produk ketrampilan lainnya terbentang menawan di atas estalase sederhana di rumah bambu.

Winongo Asri

Air selalu menjadi atraksi yang sangat menarik, bahkan sejak zaman dahulu berbagai keajaiban dunia
banyak berada di tepian air. Patung Liberty, ikon Amerika Serikat, Opera House Sidney, ikon Australia dan Merlion, ikon Singapura berada di wilayah teluk dan merupakan simbol nasional ketiga negara tersebut yang sangat melekat di ingatan orang di seluruh dunia. Catat pula bah¬wa perkotaan di Nusantara berkembang dalam dua pola besar, yaitu di tepian air atau pesisir maupun di wilayah daratan di pedalaman yang subur. Jembatan Ampere dan Sunda Kelapa menjadi ikon Palembang dan Jakarta selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, meski ke¬duanya sekarang terus berjuang mengemba¬likan kharismanya kembali. Selain atraksi, su¬ngai yang dianggap sebagai salah satu elemen kehidupan juga digunakan untuk berbagai ritual seperti di Sungai Gangga, India yang hingga hari ini berperanan penting dalam kehidupan spiritu¬al bangsa India.

Rabu, 28 Agustus 2013

MEWUJUDKAN SUNGAI WINONGO ASRI-1

Ketika pada zaman, di mana sarana transportasi belum berkembang seperti sekarang, sungai merupakan wahana transportasi yang sangat vital. Apabila dilihat dari perkembangan kota/pemukiman lama, menunjukkan,bahwa banyak dijumpai pusat-pusat perkotaan, pusat kerajaan yang mengambil lokasi di tepian sungai. Hal tsb. membuktikan, bahwa sarana transportasi air/sungai, merupakan sarana yang sangat strategis pada zamannya. Sungai sebetulnya mempunyai fungsi pokok sebagai sarana menampung sisa limpasan air hujan yang ada di daerah atasannya (atusan), setelah air hujan meresap ke dalam tanah, yang kelak menjadi air tanah. Daerah sungai dibagi menjadi palung sungai, bantaran sungai dan sempadan sungai. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. : 38, tahun 2011 tentang Sungai menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan bantaran sungai adalah : ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah dalam yang terletak di kiri dan/atau kanan palung sungai, sedangkan yang dimaksud dengan garis sempadan adalah : garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai.

MEWUJUDKAN SUNGAI WINONGO ASRI-2

Permasalahan sungai, ecara ekologis, keberadaan talud beton, akan membatasi keluar/masuknya air dari sempadan ke bantaran sungai dan sebaliknya, juga secara sinergis akan mempercepat energi banjir. Dengan demikian, erosi dasar sungai dan sedimentasi di muara sungai akan lebih cepat terjadi. Jadi dasar talud akan selalu tergerus arus banjir, dengan demikian biaya pemeliharaam talud akan selalu dibutuhkan. Di samping itu, dampak yang muncul adalah : mata air mikro yang ada di kanan kiri sungai akan mati, sehingga akan berakibat pada terjadinya fluktuatif debit sungai, antara musim penghujan dan musim kemarau, juga akan mengurangi keluaran air sungai, yang menjadi air masukan bagi daerah bawahannya, yang akan menjadi air tanah. Keberadaan permukiman dan aktifitas warga di sempadan, akan berpengaruh pada : makin berkurangnya areal resapan air hujan, sebelum menjadi limpasan, proses purifikasi limbah cair, kualitas ekologi sempadan dan bantaran sungai (ekologi sungai tercemar), makin langkanya keanekaragaman hayati di sempadan, buangan limbah rumah tangga/industri rumah tangga ke sungai, timbunan sampah di sempadan sungai.

Selasa, 16 April 2013

TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA


TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA TAMAN WISATA SUNGAI WINONGO: BAGIAN DARI REVITALISASI SUNGAI DI JOGJA

Kota Jogja setidaknya dilintasi oleh tiga buah sungai, yaitu Sungai Gajah Wong, Sungai Code, dan Sungai Winongo. Ketiga sungai ini memiliki tebing yang relatif tinggi. Bantaran sungai tersebut untuk saat ini juga menjadi lokasi hunian yang cukup padat. Bantaran-bantaran sungai di ketiga sungai itu akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang relatif intens dari Pemkot Jogja maupun warga Jogja sendiri, terutama yang bermukim di bantaran-bantaran sungai tersebut.

Minggu, 31 Maret 2013

Kelestarian Lingkungan Tinjauan Hukum Islam(Fiqih)

Dewasa ini lingkungan itu tidak begitu dihargai. Pengrusakan lingkungan itu dianggap hal yang wajar-wajar saja dan dilakukan dengan penuh kesadaran tinggi. Hukum pun tidak dapat lagi berbuat banyak. Dampaknya begitu terasa. Kita bisa lihat baik lewat media maupun dengan mata kepala kita sendiri. Sampah berserakan dimana-mana, penggundulan hutan, asap-asap pabrik, dan ekspoitasi alam secara berlebihan. Tidak heran, jika musim penghujan tiba, terjadi banjir dan tanah longsor, begitupun sebaliknya di saat kemarau, kita dihadapkan dengan kekeringan panjang, polusi udara dan lain sebagainya.