Selamat Datang di web FKWA ( Forum Komunikasi Winongo Asri )

Sabtu, 23 November 2013

Winongo Asri

Air selalu menjadi atraksi yang sangat menarik, bahkan sejak zaman dahulu berbagai keajaiban dunia
banyak berada di tepian air. Patung Liberty, ikon Amerika Serikat, Opera House Sidney, ikon Australia dan Merlion, ikon Singapura berada di wilayah teluk dan merupakan simbol nasional ketiga negara tersebut yang sangat melekat di ingatan orang di seluruh dunia. Catat pula bah¬wa perkotaan di Nusantara berkembang dalam dua pola besar, yaitu di tepian air atau pesisir maupun di wilayah daratan di pedalaman yang subur. Jembatan Ampere dan Sunda Kelapa menjadi ikon Palembang dan Jakarta selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad, meski ke¬duanya sekarang terus berjuang mengemba¬likan kharismanya kembali. Selain atraksi, su¬ngai yang dianggap sebagai salah satu elemen kehidupan juga digunakan untuk berbagai ritual seperti di Sungai Gangga, India yang hingga hari ini berperanan penting dalam kehidupan spiritu¬al bangsa India.

Namun apa yang terjadi kemudian adalah su¬ngai juga digunakan untuk salah satu saluran “pembuangan” yang paling primitif. Orang ke¬mudian tidak hanya membuang limbah rumah tangganya tetapi juga kemudian industri de¬ngan dalih menuju kepada kemajuan ekonomi akibat revolusi industri. Selang kurang lebih seabad setelahnya, seiring dengan munculnya berbagai paradigma baru yang berlawanan ter¬hadap industrialisasi, seperti pembangunan berkelanjutan ataupun prinsip-prinsip “hijau” yang bersumber kepada prinsip-prinsip alami dan ekologi, kawasan tepian air mulai menda-patkan porsi yang cukup besar untuk dilakukan perbaikan baik melalui proses regenerasi, reha¬bilitasi maupun revitalisasi.


Beberapa pertimbangan untuk revitalisasi kawasan tepian air adalah alasan ekonomi, sosial, budaya, lingkungan hidup, pelestarian dan pengurangan risiko atau mitigasi bencana. Alasan ekonomi dikedepankan karena di ne¬gara maju saat ini terjadi proses deindustrial¬isasi dengan memindahkan lokasi pabrik dari tengah kota, terutama di tepian airnya ke daerah pinggiran kota. Alasan lingkungan hi¬dup dikedepankan antara lain karena kebu¬tuhan air bersih, sumber air baku dan perbaik¬an ekosistem terutama yang bersinggangan de¬ngan air. Alasan sosial yaitu semakin banyak¬nya kebutuhan ruang untuk rekreasi di tengah kota dan banyak kegiatan pariwisata yang terkait dengannya. Sedangkan alasan pelestari¬an adalah banyaknya kebudayaan lama yang berkembang di tepian air terutama sebelum proses industrialisasi, seperti misalnya Sunda Kelapa. Upaya mengembalikan kawasan air dan membangun ikon sebagaimana Liberty. Opera House atau Merlion tidak mudah dan membutuhkan jangka waktu yang cukup lama.


Bagaimana dengan Kota Yogyakarta? Ketika dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, Kota Yogyakarta pada awalnya dibatasi secara fisik oleh dua sungai besar, yaitu Winongo dan Code. Wilayahnya kemudian berkembang ke timur hingga Sungai Gajah Wong dan kini bah¬kan melewati ketiga sungai tersebut. Sungai Winongo, Code dan Gajah Wong menjadi bagian kota yang sangat penting dan sebagaimana yang berkembang di berbagai kota besar di Indonesia bahkan Asia, kawasan tepian sungai kemudian digunakan untuk area bermukim yang tidak berizin dan berkembang ke arah ku¬muh dan liar.

Salah satu contoh terbaik dalam upaya pem¬bersihan air sungai dan membangun kawasan tepian air ads di Singapura, negara tetangga ki¬ta. Lew Kuan Yew, pads tahun 1977, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura sa itu, menyatakan bahwa di Sungai Singapura orang harus dapat memancing ikan yang terlihat secara jernih di sungai maksimal 10 tahun kemudian. Pernyataan itu awalnya dianggap mustahil mengingat Daerah Aliran Sungai (DAS) Singapura yang mencapai 30% dari total wilayah negeri dan saat itu dipenuhi oleh polutan limbah industri dan rumah tangga sejak seabad sebelumnya. Tepian Sungai Singapura didominasi industri tradisional, peternak, babi, rumah-rumah liar dan kumuh termasuk rumah-rumah toko. Tetapi tengok yang terjadi hari ini, Boat Quay dan Clarke Quay termasi dalam tujuan wisata yang menarik dengan, sungai yang bersih, tepian air yang tertata dan deretan rumah toko tradisional yang unik. Hal itu tampaknya mustahil ketika awal 1980-a dimana kawasan yang dipenuhi oleh polut; kontras dengan bangunan tinggi yang dibangi di sekitarnya. Singapura memberikan contoh bahwa upaya tersebut memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi bukanlah suatu hal yang mustahil.


Hasil dan dampak dari perbaikan dan revitalisasi tepian air tidaklah didominasi oleh salah satu pihak tertentu saja, namun juga menjangkau berbagai kalangan. Kawasan tepian laaut di Dubai yang saat ini terkenal dengan hotel yang diklaim berbintang 7 pertama di dunia, Burj Al Arab hingga yang terbaru Palm Jumeirah merupakan pasar properti palii potensial di dunia yang mampu mendatangkan. investasi hingga triliunan dolar. Trend proper ini pun menular hingga Jakarta dan Singapura dan bahkan Pulau Bali pun telah lama merasakan dampaknya dengan majunya properti baik hotel, apartemen, resort hingga restoran dan pertokoan di Kuta, Legian, hingga Jimbaran.. Jimbaran terjadi mutualisme yang cukup baik antara kalangan elite dan masyarakat di sekitar dengan tumbuhnya berbagai restoran di sekitar properti-properti elite. Ke depan, di Winongo pun  diharapkan terjadi simbiosis mutualisme yang baik antara masyarakat yang tinggal dengan bentuk-bentuk mvestasi yang akan datang.


Sebagai awal dari upaya revitalisasi Sung Winongo yang harus dilakukan adalah perubahan pola perilaku dari warga tepian sung baik melalui program tertib sungai dan program kali bersih (prokasih). Perubahan perilku ini penting mengingat pola pembangun, saat ini adalah pembangunan yang berimbang antara sistem top-down dan bottom up sehingga partisipasi masyarakat sangat diperlukan. Kesadaran masyarakat untuk memperlakukan sungai tidak sebagai saluran pembuangan, melainkan sebagai elemen penting dalam kehi¬dupannya. Sungai tidak lagi halaman belakang dari rumah, tetapi merupakan halaman depan yang memberikan identitas utama baginya. Seiring dengan proses perubahan perilaku tersebut, juga dilakukan advokasi, fasilitasi dan pengembangan fisik kawasan secara incremen¬tal atau bertahap. Diharapkan partisipasi ma¬syarakat dalam membangun lingkungan tem¬pat tinggalnya juga meningkat seiring dengan adanya advokasi, fasilitasi dan pengembangan fisik tersebut sehingga bisa menjangkau lebih banyak target.

Beberapa langkah yang telah, sedang dan akan dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta antara lain dengan mengembangkan beberapa spot strategis Sungai Winongo yang potensial yang terdapat dalam 3 (tiga) penggal Sungai yang membentang dari utara ke selatan wila¬yah Kota Yogyakarta, yaitu penggal wilayah utara, penggal wilayah tengah dan penggal wilayah selatan. Saat ini, masyarakat di tepian Sungai Winongo telah membentuk Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) untuk bahu¬membahu dengan stakeholders lain membangun dan mengembangkan kawasan tepian Sungai Winongo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar